Aceh Besar– Kabar membanggakan datang dari Kabupaten Aceh Tenggara. Dosen Universitas Gunung Leuser, Fitria, S.Pd., M.Pd., yang dikenal dengan nama pena Fitria Panjang, berhasil mengukir prestasi membanggakan dengan meloloskan karya puisinya pada Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh–Indonesia 2026, sebuah ajang sastra internasional yang mempertemukan penyair dari berbagai negara.
Keberhasilan tersebut menjadi pencapaian istimewa karena seleksi berlangsung sangat kompetitif. Dari 1.018 judul karya yang dikirim oleh 552 penulis, hanya 300 karya dari 300 penyair yang dinyatakan lolos kurasi dan terpilih masuk dalam antologi resmi PPN XIV Aceh–Indonesia 2026. Di antara para penyair terpilih itu, Fitria Panjang hadir sebagai salah satu representasi Aceh Tenggara.
Kegiatan yang berlangsung pada 22–29 Juni 2026 tersebut dibuka secara resmi oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., di Istana Wali Nanggroe, Darul Imarah, Aceh Besar, Senin (22/6/2026).
PPN XIV Aceh–Indonesia 2026 diikuti penyair dari 14 negara, yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Laos, Filipina, Kamboja, Vietnam, Myanmar, Timor Leste, Turki, Jepang, dan Tasmania. Kehadiran para penyair lintas negara menjadikan Aceh sebagai ruang perjumpaan sastra dan budaya dunia.
Namun, Fitria tidak hanya membawa puisi. Ia juga membawa identitas dan kebanggaan daerahnya. Pada acara pembukaan, Fitria tampil anggun mengenakan busana adat Alas, sebagai simbol kecintaan terhadap warisan budaya leluhur sekaligus upaya memperkenalkan kekayaan budaya Aceh Tenggara kepada peserta dari berbagai negara.
Penampilannya menjadi perhatian tersendiri di tengah ratusan peserta yang hadir. Busana adat Alas yang dikenakannya memperlihatkan bahwa sastra tidak hanya berbicara tentang kata-kata, tetapi juga menjadi ruang memperkenalkan identitas dan kebudayaan.
“Saya mengenakan busana adat Alas karena ingin memperkenalkan budaya Aceh Tenggara kepada para penyair dari berbagai daerah dan negara. Busana ini bukan hanya identitas, tetapi juga representasi nilai-nilai luhur masyarakat Alas yang menjunjung kehormatan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap tradisi,” ujar Fitria.